Rabu, 15 Juli 2009

TOKOH PENTING

TOKO PENTING DALAM EKSPEDISI MAJAPAHIT KE BALI


KRIAN PASUNG GRIGIS

PENYERANGAN PASUNG GRIGIS KE PULAU SUMBAWA

Selain melaporkan kemenangan tersebut Gajah Mada juga melaporkan keadaan di wilayah Pulau Sumbawa

“ Baginda Ratu, hamba mendengar kabar bahwa di Sumbawa berkuasa seorang raja tua yang amat sakti. Beliau bernama Prabu Dedelanata. Beliau berwajah dahsyat seperti raksasa, bertaring yang kukuh dan tajam, giginya bagaikan taji, matanya seperti barong, suaranya keras seperti guntur. Hamba punya pendapat untuk mengirim Krian Pasung Grigis ke Sumbawa untuk menaklukkan raja tua itu. Dialah satu satunya yang mempunyai kesaktian yang setingkat dengan raja tua itu “

Ratu Tribhuwana Tunbggadewi menyetujui usul tersebut dan meminta pendapat dari krian Pasung Grigis atas rencana tersebut.

“ Hamba sanggup Gusti Ratu, ijinkan hamba berangkat sendirian, jangan ragukan diri hamba, hamba tidak akan pindah haluan, hamba merasa diri hamba sebagai taklukan Majapahit dan akan mematuhi segala titah Ratu, hamba mohon diri doakan semoga hamba berhasil “

Pada hari yang sudah ditentukan berangkatlah Krian Pasung Grigis ke Pulau Sumbawa sendiri tanpa diiringi oleh prajurit. Beliau juga sudah mendengar kesaktian prabu Dedelanata dan dari dulu ingin mencoba kesaktiannya. Sekaranglah saatnya dengan hati yang penuh semangat Krian Pasung Grigis langsung menuju Istana Prabu Dedelanata dan menantang perang tanding.

“ Hai Dedelanata, aku datang untuk menantang kamu untuk bertempur. Aku adalah raja Bali yang berkedudukan di Desa Tengkulak, namun kedatanganku kemari bukan atas nama Bali tapi atas nama Majapahit karena aku telahmengabdi kepada Ratu Majapahit.

Mendengar tantangan tersebut Prabu Dedenata kemudian keluar dari Istananya menemui Krian Pasung Grigis

“ Kau rupanya Pasung Grigis, sudah lama aku mendengar kedigjayaanmu, tidak dinyana engkau telah tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Mari kita perang tanding untuk menunjukkan kedigjayaan kita “

Pasung Grigis bersiap untuk melakukan perang tanding dengan Prabu Dedelanata, namun sebelum perang tanding dimulai Kran Pasung Grigis mengusulkan untuk membuat perjanjian terlebih dahulu

“ Kalau aku kalah engkau boleh tidak tunduk kepada kekuasaan Majapahit, tapi kalau engkau kalah maka seluruh kerajaan dan rakyatmu harus tunduk kepada kekuasaan Majapahit “

Betapa marahnya prabu Dedelata mendengar tantangan tersebut dan menjawab tantangan dari Krian Pasung Grigis

“ Hai Pasung Grigis bilang sama Ratu Majapahit, Dedelanata tidak mau tunduk dibawah kekuasan Majapahit. Pulau Sumbawa akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kalau aku kalah olehmu kerajaan beserta seluruh rakyatku boleh menjadi milik Majapahit. Kini didepan rakyatku aku berjanji bahwa aau tidak akan dibantu oleh sorangpun untuk melawan engkau. Dan kepada rakyatku semua engkau boleh menonton kesaktian rajamu.

Mendengar teriakan raja Dedelanata semua rakyat terdiam, tidak ada yang berani membuka suara , takut akan kewisesan raja mereka. Akhirnya perang tanding antara Raja Dedelanata dan Pasung Grigis terjadilah. Kedua tokoh tersebut sama sama sakti, licin dan sama sama kebal dan tidak seorangpun yang kelihatan mau mundur. Kedua tokoh tersebut ternyata memiliki ilmu kesaktian yang setingkat maka perang tandingpun berjalan seimbang sehingga menguras tenaga kedua tokoh tersebut. Sampai akhirnya keduanyapun kehabisan tenaga dan mati lemas.

Seluruh rakyat yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut seolah olah tidak percaya menyaksikan rajanya yang teramat sakti tersebut gugur bersama musuhnya. Karena Raja Dedelanata telah wafat maka sesuai amanat yang diberikan oleh raja mereka maka seluruh kerajaan dan rakyat Pulau Sumbawa menyatakan tunduk kepada kekuasaan Majapahit




Seperti yang telah disebutkan di halaman sebelumnya bahwa Sri Kresna Kepakisan dalam menjalankan pemerintahannya di bali dibantu oleh para Arya dari Majapahit Para arya tersebut diantaranya :

1 Arya Kenceng mengambil tempat di Tabanan
2 Arya Kanuruhan mengambil tempat di Tangkas
3 Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu
4 Arya Dalancang mengambil tempat di Kapal
5 Arya Belog mengambil tempat di Kaba Kaba
6 Arya Pangalasan
7 Arya Manguri
8 Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas mengambil tempat di Toya Anyar
9 Arya Temunggung mengambil tempat di Petemon
10 Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar Kelungkung
11 Arya Belentong mengambil tempat di Pacung
12 Arya Sentong mengambil tempat di Carangsari,
13 Kriyan Punta mengambil tempat di Mambal
14 Arya Jerudeh mengambil tempat di Tamukti
15 Arya Sura Wang Bang asal Lasem mengambil tempat di Sukahet
16 Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana
17 Arya Melel Cengkrong mengambil tempat di Jembrana
18 Arya Pamacekan mengambil tempat di Bondalem,
19 Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan

Berikut ini akan diuraikan perjalanan para Arya tersebut dalam menjalankan pemerintahannya di Bali

ARYA ANGLURAN PINATIH

Diceriterakan Kyai Angelurah Pinatih Mantra, diberikan tempat tinggal di Kerthalangu, Badung, menguasai kawasan Pinatih serta diberikan memegang bala sejumnlah 35.000 orang, yakni mereka yang merupakan rakyat dan Senapati Arya Buleteng. Diceriterakan Kyai Anglurah Pinatih Mantra, memiliki putra laki seorang, bernama Kyai Anglurah Agung Pinatih Kertha atau I Gusti Anglurah Agung Pinatih Kejot, Pinatih Tinjik atau I Gusti Agung Pinatih Perot. Beliaulah yang dikenal menyerang serta mengalahkan kawasan Bangli Singharsa sewaktu pemerintahanNgakan Pog yang menjadi manca di sana, sesuai dengan perintah Ida Dalem Ketut Ngulesir atau Ida Dalem Smara Kepakisan yang menjadi penguasa tahun Masehi 1380 sampai dengan 1460.
Kyayi Anglurah Pinatih Mantra sudah tua, kemudian berpulang ke sorgaloka. Kyai Anglurah Pinatih Kertha Kejot berputra laki dan isteri pingarep bernama Ki Gusti Anglurah Pinatih Resi, dan isteri putri I Juru kemong bernama Ki Gusti Anglurah Made Bija serta putra laki-laki dari sor bernama I Gusti Gde Tembuku. Diceriterakan kemudian, Kyai Anglurah Made Bija sudah mempunyai putra, namun kakaknya I Gusti Anglurah Pinatih Rsi belum beristeri. Para putra Gusti Anglurah Made Bija bernama I Gusti Putu Pahang, I Gusti Mpulaga utawi Pulagaan, I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Nyoman Jumpahi, I Gusti Nyoman Bija Pinatih dan I Gusti Ketut Blongkoran. I Gusti Bija Pulagaan, sesuai perintah Ida Dalem Ketut Smara Kapakisan kemudian menjadi Manca di kawasan Singharsa Bangli sejak tahun Masehi 1453.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar